Jakarta vs Everybody merupakan sebuah film Indonesia yang disutradarai oleh Ertanto Robby Soediskam yang juga menjadi penulis skenarionya. Baru-baru ini Jakarta vs Everybody menjadi perbincangan di media sosial, sebagian besar gaungnya sih cenderung membahas adegan-adegan sensual dalam filmnya. Mungkin karena angle yang diambil media-media dan medsos-medsos berita juga tentang itu-itu saja.

Padahal, Jakarta vs Everybody juga mengangkat cerita yang cukup seru untuk dibahas lho, selain adegan sensual yang cuman beberapa detik saja.

Sebelum dirilis terbatas di Bioskop Online, Jakarta vs Everybody pernah diputar di Festival Film Black Nights Tallinn ke-24 di Estonia. Dalam perilisan internasionalnya Jakarta vs Everybody diberi judul Jakarta, City of Dreamers.

Film ini dibintangi oleh Jefri Nichol, Wulan Guritno, Ganindra Bimo, Dea Panendra, Jajang C Noer, Paul Agusta, Chicco Jerikho, dan masih banyak lagi.Di laman Bioksop Online film ini diberi rating 21+, rating ini cocok sih dengan pembahasan dan visual yang ditampilkan dalam film.

Jakarta vs Everybody mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda bernama Dom (diperankan oleh Jefri Nichol). Ia merantau ke Jakarta dengan harapan bisa menjadi seorang aktor besar. Untuk meraih impiannya Dom pun mencari peluang dari satu casting ke casting selanjutnya.

Namun tujuannya menjadi aktor bukanlah hal mudah. Ia pernah menjadi pemain figuran dengan bayaran kecil, ada juga peluang casting yang bertujuan untuk meleehkan aktor-aktor pemula. Berbagai rintangan dihadapi Dom. Tak jarang Dom tidur di sembarang tempat karena tak punya penghasilan sehingga tak mampu menyewa tempat tinggal. Untuk bertahan hidup Dom pun melakukan pekerjaan apapun asalkan dibayar.

Pada suatu hari Dom bertemu dengan Pinkan (diperankan oleh Wulan Guritno) dan Radit (diperankan Ganindra Bimo). Awalnya Dom membantu mereka hanya untuk mendorong mobil Radit yang mogok dengan imbalan uang. Merasa imbalan terlalu sedikit, Dom malah meminta tolong untuk dicarikan tempat tinggal. Dari sini perjalanan kelam Dom dimulai.

Selanjutnya kita akan disuguhi bagaimana Dom meniti karier sebagai kurir narkoba. Dia menjalaninya dengan santai. Kita juga diberi tontonan tentang kehidupan di sebuah rumah susun di Jakarta yang mayoritas dihuni masyarakat menengah ke bawah. Hal tersebut membuat mereka dekat dengan narkoba, seks bebas, dan kekerasan.

Meskipun bandar dan kurir Narkoba berasal dari masyarakat kalangan menengah ke bawah, Jakarta vs Everybody menggambarkan penggunanya lebih beragam. Hal ini digambarkan dari berbagai tipe pelanggan yang pesanannya diantar oleh Dom. Ada pekerja muda, ada orang tua, ada eksekutif sebuah kantor, bahkan ibu-ibu dengan anak-anak balita.

Di tengah-tengah intensitas kehidupan kurir narkoba, Dom masih digambarkan menanam harapan untuk tetap mewujudkan mimpi-mimpinya. Dia menabung penghasilannya demi mewujudkan mimpi. Tak hanya itu, dia juga bertemu orang-orang baik yang menyarankan dia untuk berhenti menjadi kurir narkoba.

Menurut saya, dari banyaknya gambaran kehidupan ‘kelam’ di Jakarta vs Everybody penggambaran resolusi tentang bagaimana si Dom mengejar impiannya masih kurang. Kita tidak diberi cukup gambaran tentang perjuangannya menjadi aktor. Malahan dia lebih digambarkan total dan sukses saat menjadi kurir narkoba.

Sebagai kurir, Dom juga berperan dalam memutus rantai peredaran narkoba dengan cara memutus komunikasi dengan salah satu pelanggan yang dia suplai narkobanya. Bisa jadi Dom melakukannya atas dasar rasa cinta, karena digambarkan dia tertarik sejak awal bertemu dengan perempuan tersebut (diperankan oleh Dea Panendra).

Secara umum Jakarta vs Everybody cukup bagus dan berani dalam menggambarkan kehidupan keras masyarakat menengah ke bawah di Jakarta. Memang gambaran ini tidak bisa dibilang mewakili apa yang terjadi sebenarnya, namun saya percaya bahwa setiap karya adalah cerminan dari kehidupan nyata. Jadi, di suatu tempat pasti hal-hal dalam Jakarta vs Everybody benar-benar terjadi.

Kita tak perlu menyikapi gambaran-gambaran kontroversial dalam Jakarta vs Everybody dengan kecaman atau protes. Namun lebih dengan pemahaman terkait kerasnya kehidupan dan batas-batas moral yang harus kita ketahui.

Gunakan nilai-nilai yang menurut teman-teman benar dan perlu ditegakkan. Kemudian hiduplah dengan nilai-nilai tersebut. Mungkin dengan seperti itu kita akan lebih bisa hidup dengan damai dan tentram.

Buat teman-teman yang tertarik nonton Jakarta vs Everybody, buruan cek di Bioskop Online. Tarifnya murah, ga kayak nonton di bioskop konvensional. Gas aja.

Yuk Langganan Artikel Terbaru Kamusfilm

Cukup pakai email bisa dapatkan konten terbaru kamusfilm.