Sekelompok filmmaker anonim asal Myanmar membuat film dokumenter yang mengabadikan kehidupan mengerikan pasca-kudeta militer di Myanmar. Film dokumenter berjudul The Myanmar Diaries itu akan tayang perdana di Berlin Film Festival, Minggu (13/2) waktu setempat.

Dikutip dari The Hollywood Reporter (10/02), kini, satu tahun setelah kudeta militer pada Februari 2021, pelanggaran terhadap hak asasi manusia di Myanmar semakin meningkat. Rezim militer penguasa sudah menerapkan keamanan cyber yang membuat mereka sepenuhnya mengontrol komunikasi elektronik di negara tersebut. Di sisi lain, media global sudah mulai meninggalkan pemberitaan tentang kudeta di Myanmar.

The Myanmar Diaries merupakan pengingat bahwa warga Burma belum beranjak dari efek kudeta tersebut. Film dokumenter The Myanmar Diaries dibuat oleh filmmaker anonim yang menamakan mereka Myanmar Collective. Film dokumenter The Myanmar Diaries akan diputar di Berlin Film Festivals di sesi Panorama.

Militer dan polisi mnangkap dan menyeret orang dari rumah-rumah mereka tanpa peringatan atau penjelasan. Pengunjuk rasa damai bahkan dipukuli dan ditembaki di jalan.Selain berupa produk jurnalisme warga, film dokumenter The Myanmar Diaries juga menampilkan cerita fiksi pendek dan penggambaran kehidupan di bawah pemerintah diktator.

Narasumber yang disebut sebagai Aung oleh The Hollywood Reporter mengungkapkan bahwa awalnya warga memang terkejut dengan peristiwa kudeta. Namun mereka percaya dan berharap bahwa hal tersebut tidak akan terlalu berdampak pada kehidupan warga sipil.

“Baru di akhir Februari kami sadar, bahwa kehidupan tidak akan seperti dulu lagi. Bahkan akan memburuk. Kami memutuskan untuk melakukan perjuangan melalui film. Saat ini hanya film yang bisa menyuarakan aspirasi kami ke luar Myanmar, ” jelas Aung kepada The Hollywood Reporter.

Selain Aung, The Hollywood Reporter juga berkesempatan berbicara dengan salah satu sutradara The Myanmar Diaries, yang disebut sebagai Hlaing. Ia mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya tidak tertarik pada politik, namun kondisi saat ini membuat dia harus berjuang untuk membantu masyarakat mendapatkan kembali kemerdekaan.

“Dengan diputarnya The Myanmar Diaries di Berlin Film Festival, semoga apa yang terjadi di Myanmar kembali menjadi isu global. Kami sangat berterimakasih atas kesempatan ini,” jelas Hlaing.

Selama berkomunikasi dengan The Hollywood Reporter, kedua narasumber memakai penutup wajah. Hal itu mereka lakukan demi keamanan diri mereka.

Salah satu penggambaran paling menegangkan di film dokumenter ini adalah saat ada seseorang pria yang bertelanjang dada, wajahnya ditutup oleh plastik hitam. Pria tersebut tampak kesulitan bernapas. Di belakangnya ada slogan-slogan untuk perjuangan pembebasan Myanmar.

Dalam membuat film dokumenter ini Myamnar Collective dibantu sineas asal Belanda yang menjadi Co-produser. Sineas yang juga tak disebut namanya ini bahkan sedang menyiapkan laman online bernama myanmarfilmcollective.com untuk menayangkan film dan melaporkan peristiwa dari dalam Myanmar. Website tersebut akan menggunakan hosting di Belanda, dan rencananya akan dirilis April nanti. Melalui website tersebut para pengunjung bisa memberi bantuan dalam bentuk apapun.

Setelah diputar di Berlin Film Festiva. Film dokumenter ini juga akan didistribusikan secara global oleh Autlook Filmsales.