Bagi saya pribadi yang belum berani ke bioskop karena pandemi, perilisan film Indonesia di  layanan OTT sangatlah memberi angin segar. Pada pertengahan Oktober 2021, dirilislah film Indonesia berjudul A World Without di Netflix. Auto nonton lah, nah, di bawah ini review A World Without.

  • Ada Nilai Satir yang Cukup Menarik

Film ini memiliki intro yang cukup menarik, di mana kita digambarkan kondisi kehidupan di masa depan setelah pandemi usai. Secara sederhana premis nya sangat relatable dengan kondisi saat ini. Orang-orang akan penasaran bakal seperti apa ya situasi setelah pandemi?

Kalau saya tidak salah ingat, kita di bawa ke sebuah negara di tahun 2030. Penonton disuapi dengan informasi bahwa dunia sudah tak seindah dulu, polusi dan kerusakan sudah merajalela. Tak hanya kerusakan alam, moral pun sudah dianggap rusak. Tokoh-tokoh utama dalam A World Without yang notabene para pemuda bahkan diceritakan selama hidupnya belum pernah melihat hutan yang hijau dan lebat. Namun sayang sekali, respons para karakter saat pertama kali melihat hutan sungguh biasa saja. Hehe.

  • Gambaran Futuristik Kurang Maksimal

Mungkin karena saya juga terlalu banyak melihat film futuristik produksi asing, maka sedikit merasa aneh dengan teknologi yang dipakai di film ini. Seperti ada ketimpangan di satu teknologi dengan teknologi lainnya. Para karakter digambarkan punya ponsel pribadi yang super futuristik. Namun para konten kreator nya masih memakai kamera biasa seperti zaman sekarang. Namun hal ini bisa saya logikakan bahwa tidak semua negara progres kemajuannya sama. Bisa jadi negara di film ini tidak semaju negara lain.

Gambaran satir tentang kerusakan alam sayang sekali hanya tebal di awal film. Kemudian diganti dengan permasalahan remaja zaman sekarang tentang jodoh dan masa depan. Dikarenakan alam yang sudah rusak, remaja-remaja di film ini perlu pelatih yang dianggap bisa memberikan masa depan yang lebih cerah. Nah, di film ini tugas itu jatuh kepada The Light.

Para remaja terpilih dibawa ke fasilitas ekslusif milik The Light dan dijanjikan sebuah ketrampilan sesuai passion mereka. Tak berhenti disitu, mereka akan diberi pekerjaan dan jodoh setelah selesai pelatihan.

  • Kalau Ada yg Menawarkan Kesempurnaan, Jangan Percaya!

The Light ini digambarkan begitu sempurna. Mereka merangkul semua peserta tanpa melihat latar belakang. Menempatkan masing-masing sesuai passion dan mengembangkannya. Digambarkan juga The Light itu melarang segala bentuk percintaan sebelum menikah. Mulai dari hal ini menurut saya satir di film ini mulai bercabang. Namun hingga pertengahan film belum ada yang benar-benar terekspos secara maksimal.

Film ini sepertinya ingin juga menunjukkan bahwa mengagungkan sesuatu sampai tidak melihat secara rasional adalah hal tidak baik. Namun menurut saya, cara film ini dalam mengungkap keburukan The Light kurang maksimal.  Semuanya hanya implisit tanpa efek masif.

  • Amanda Rawles Juaranya

Tiga aktris muda menjadi fokus film ini, mereka adalah Amanda Rawles, Maizura, dan Asmara Abigail. Menurut saya ketiganya sukses memerankan akting masing-masing. Saya pribadi sampai benci dengan ketiganya karena kok bisa jadi perempuan sepolos itu. Apalagi untuk tokoh Salina (Amanda Rawles) yang diawal film sudah diberi petunjuk oleh teman lamanya terkait keburukan The Light. Secara logika, bila masa depan kita tergantung pada sebuah institusi, maka sebagai manusia normal akan mencari segara informasi tentang institusi tersebut. Untuk nantinya disaring dan disimpulkan. Tapi informasi itu seakan lenyap dan baru muncul di momen akhir film saat Salina mau dipoligami. Akting Asmara Abigail bisa dibilang paling maksimal. Sepanjang film dia menampilkan switch emosi yang cukup ekstrem. Dari awalnya bahagia bisa langsung histeris.

Di film ini juga ada jubah warna-warni dengan potongan yang menurut saya sangat unorthodox. Namun tidak dijelaskan apa makna jubah itu, kenapa terus dipakai, kenapa ada perbedaan warna, intinya banyak pertanyaan yang tak terjawabkan. Hal itu membuat sebal.

  • Layak Ditonton Atau Tidak?

Untuk teman-teman yang mencari rekomendasi tontonan yang cenderung aneh dan memunculkan pertanyaan di kepala. Coba saja tonton A World Without. Namun untuk penyuka cerita yang lugas dan selesai di akhir film, mungkin film ini kurang pas. Terlepas dari review ini, silahkan menonton film ini untuk terus mendukung sineas dalam negeri agar mampu terus berkarya. Hindari menonton bajakan ya.

A World Without disutradarai oleh Nia Dinata dengan skenario dari Nia Dinata dan Lucky Kuswandi. Selain nama aktor muda di atas, film ini juga dibintangi oleh Chicco Jerikho, Ayusitha, dan Jerome Kurnia.

Beri Respons Teman-Teman Untuk Review Ini