Kamusfilm – Pandemi tahun ini membuat rutinitas mimin untuk menonton film di bioskop menjadi terhambat. Di samping itu, perilisan film-film juga menurun drastis. Hal itu membuat pilihan film untuk di review menjadi sangat terbatas. Namun kali ini mimin akan memberikan satu review sebuah film yang rilis pada Januari 2019 berjudul The Kid Who Would be King.

Film ini dirilis di Indonesia sekitar 23 Januari 2019. Secara rating, film ini mendapat resepsi positif 89% di Rotten Tomatoes. Meski demikian, secara umumnya resepsi penonton terkait film ini bisa dibilang mixed, positif dan negatifnya seimbang. Secara bisnis, film ini tidak terlalu sukses.

The Kid Who Would be King disutradarai oleh Joe Cornish dengan cerita yang ditulis sendiri juga oleh Joe. Film ini dibintangi Louis Ashbourne Serkis, Denise Gough, Dean Chaumoo, dan masih banyak lagi.

Film ini bisa dibilang sebagai drama keluarga yang dibalut dengan unsur fantasi dan mengandung adegan kekerasan. Model-model film the chosen one, di mana karakter utama pasti berhasil meskipun tanpa bala bantuan yang sesuai untuk mengalahkan musuhnya. Inti ceritanya diambil dari kisah populer Raja Arthur dan Pedang Excalibur.

Sang sutradara cukup kreatif karena mengeksekusi cerita Raja Arthur dengan set waktu modern. Dari awal film penonton langsung dibawa untuk mengikuti  petualangan ala the chosen one. Tokoh Alex yang sering dibully di sekolah, tanpa sengaja menemukan pedang yang tertancap di sebuah reruntuhan gedung. Dia sadar dengan cerita dongeng Raja Arthur, namun tidak pernah menganggap hal itu sebuah hal nyata.

L-R: Rhianna Dorris, Louis Ashbourne Serkis, Angus Imrie, Dean Chaumoo, and Tom Taylor star in Twentieth Century Fox’s THE KID WHO WOULD BE KING. Photo Credit: Kerry Brown.

Film ini mendekonstruksi apa yang sudah menempel erat di benak penonton terkait tokoh penyihir popluler Merlin. Penyihir tersebut lumrahnya digambarkan sudah tua, berjenggot panjang, bijaksana, dan saran yang diberikan biasanya sesuai kenyataan. Namun di film ini kita diminta untuk menerima yang sebaliknya, bahkan apa yang diungkap Merlin di film ini bisa jadi salah dan jauh dari solusi yang ada.

Film ini tidak diisi oleh tokoh-tokoh populer, namun aktor yang bermain di dalamnya cukup mampu untuk membawa karakter masing-masing. Alex sebagai orang terpilih juga berhasil membawakan sosok jujur, bijaksana, namun tetap manusia biasa yang bisa melakukan kelalaian. Karakter yang paling mencuri perhatian kalau menurut mimin adalah Bedders. Dari awal digambarkan sebagai bocah lemah, namun ternyata dia sangat pintar. Puncak keunikan Bedders adalah saat dia bisa melakukan apa yang dilakukan Merlin hanya dengan melihat rekaman video di ponselnya.

Sang sutradara cukup sukses dalam menggambarkan unsur petualangan di film ini. Meski cerita Raja Arthur sudah sangat sering diadaptasi, namun pendekatan sang sutradara cukup fresh dalam film ini. Sehingga penonton tidak akan cepat merasa bosan.

Nilai kurang dari film ini mungkin kalau ditonton penonton dewasa yang berharap pertempuran yang realistis. Tokoh utama digambarkan terlalu rentan untuk melawan penyihir berusia ratusan tahun, jadi pertempuran yang ada hanya sebatas hiburan untuk anak-anak. Jangan berharap ada pertempuran yang realistis dan dramatis antara hidup dan mati.

Visual efek film dan tampilan film ini cukup bagus, mampu menggabungkan unsur klasik dan modern menjadi satu. Di mana baju zirah besi tetap dipakai untuk berperang dengan set lingkungan modern.

Kesimpulannya, film ini cocok untuk menghabiskan waktu weekend bersama sodara atau keponakan yang sudah berumur lebih dari 7 tahun. Cocok untuk hiburan mereka dan mungkin masih cukup realistis buat anak-anak umur sekitar itu. Kalau orang dewasa tidak disarankan berharap lebih dari film ini.