#Alive merupakan salah satu film terbaru rilisan Netflix yang resmi dirilis pada 8 September 2020. Film ini bisa dibilang menjadi salah satu pelepas dahaga film di kala pandemi. Kalau menurut saya pribadi, jika kita membahas film zombie Korea Selatan, ingatan kita akan merujuk ke Train to Busan. Nah, film ini seolah-olah membawa beban untuk setidaknya menyamai dramatis nya Train to Busan. Inilah review film #Alive menurut saya

#Alive atau Saraitda mengisahkan tentang tokoh bernama Joon-woo. Ia adalah seorang pemuda yang gemar bermain video game online. Aktivitas hariannya dihabiskan di rumah untuk membuat konten dan bermain video game. Film dimulai dengan Joon-woo yang langsung bermain video game tepat setelah dia bangun tidur. Di sisi lain kedua orang tuanya dan adiknya sudah keluar rumah untuk beraktivitas. Singkat cerita, di terjadi kekacauan di sekitar apartemen Joon-woo. Tak lama televisi menyiarkan berita serupa yang terjadi si seluruh Korea Selatan.

Still film #Alive

Dalam keadaan bingung, Joon-woo ditelepon orang tuanya dan diminta untuk bertahan hidup. Sebagai generasi digital, Joon-woo memakai alat-alat kerennya untuk bertahan hidup. Mampukah dia bertahan hidup dengan mengurung diri di apartmen?

Film ini merupakan debut sang sutradara

#Alive  disutradarai oleh Il Cho atau juga dikenal dengan Cho Il-hyung. Film ini merupakan debut Il Cho sebagai sutradara. Skenario film ini diadaptasi dari skenario film Alone yang diproduksi untuk film Hollywood. Penulis skenario Alone, Matt Naylor berkolaborasi dengan Il dan memodifikasi skenario tersebut hingga menjadi #Alive.

Di momen-momen awal menonton film ini, ekspektasi saya sungguh tinggi karena teringat dengan film Train to Busan. Namun harapan saya ternyata terlalu tinggi. Film ini terlalu lama berfokus pada tokoh Joon-woo yang diperankan oleh Yoo Ah-in. Karakterisasi Joon-woo juga tidak terlalu signifikan. Apa yang dia lakukan tidak terlalu menggugah selera sebagai tontonan seru. Bisa dibilang ‘B Ajah’.

Kondisi sedikit berubah saat tokoh Kim Yoo-bin muncul. Tokoh yang diperankan Park Shin-hye ini sedikit mengangkat tingkat thrill di film ini. Kim Yoo-bin digambarkan lebih cerdik dan mampu memanfaatkan alat-alat di rumahnya. Dia digambarkan sebagai pecinta alam yang memiliki kemampuan memanfaatkan alat-alat outdoor nya. Hal itu bertolak belakang dengan si Joon-woo yang hanya bisa mencari sinyal.

#Alive seolah-olah mengajak penontonnya menglorifikasi rasa putus asa dan ketidakmampuan untuk bertahan hidup. Kita diposisikan sebagai seseorang yang tidak bisa memaksimalkan alat-alat yang sebenarnya ada di depan mata. Hal inilah yang menurut saya kekurangan film ini. Penonton jadi seperti tidak disuguhkan dengan momen-momen si tokoh utama membalikkan keadaan dengan si Zombie. Praktis dari awal hingga akhir, Zombie berada di atas angin.

Dari segi tampilan Zombie, sineas Korea Selatan bisa dibilang sudah mampu menandingi tampilan zombie-zombie Hollywood. Make up dan detailnya sudah terasa sangat nyata. Hal ini membuat saya nyaman saat menonton aksi menghajar zombie, terlepas dari cerita filmnya.

Kalau saya boleh menilai film ini, mungkin saya akan memberi nilai 6 dari 10. Nilai plus nya karena karakter tokoh utamanya cukup berbeda dari film-film zombie lain. Bisa dibilang idenya fresh. Park Shin-hye tentu menambah nilai positif. Mungkin hanya kurang di eksekusi aksi si tokoh dan bangunan cerita sampai akhirnya mereka keluar dari ancaman Zombie.